
Bab Ke-1: Shalat Sunnah pada Waktu Terjadi Gerhana Matahari
547. Abu Bakrah berkata, "Kami berada di sisi Rasulullah lalu terjadi gerhana
matahari. Maka, Nabi berdiri dengan mengenakan selendang beliau (dalam satu
riwayat: pakaian beliau sambil tergesa-gesa 7/34) hingga beliau masuk ke dalam
masjid, (dan orang-orang pun bersegera ke sana 2/31), lalu kami masuk. Kemudian
beliau shalat dua rakaat bersama kami hingga matahari menjadi jelas. Beliau
menghadap kami, lalu bersabda, 'Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari
tanda-tanda kekuasaan Allah, dan sesungguhnya keduanya (2/31) bukan gerhana
karena meninggalnya seseorang. Akan tetapi, Allah ta'ala menakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengannya. Oleh karena itu, apabila kamu melihatnya, maka shalatlah
dan berdoalah sehingga terbuka apa (gerhana) yang terjadi padamu.'"
(Hal itu karena putra Nabi saw. yang bernama Ibrahim meninggal dunia, kemudian
terjadi gerhana. Lalu, orang-orang berkomentar bahwa gerhana itu terjadi karena
kematian Ibrahim itu. Hal ini lantas disanggah Rasulullah dengan sabda beliau
itu.)
548. Abu Mas'ud berkata, "Nabi bersabda, 'Sesungguhnya matahari dan bulan tidak
gerhana karena meninggal (dan hidupnya 4/76) seseorang. Tetapi, keduanya adalah
dua dari tanda-tanda
dari kebesaran Allah. Apabila kamu melihatnya, maka berdirilah untuk mengerjakan
shalat gerhana.'"
549. Ibnu Umar mengatakan bahwa ia memberi kabar dari Rasulullah, bahwa matahari
dan bulan tidak gerhana karena meninggal dan hidupnya seseorang. Tetapi,
keduanya adalah tanda-tanda kekuasan Allah. Apabila kamu melihatnya, maka shalat
gerhanalah.
550. Al-Mughirah bin Syubah berkata, "Terjadi gerhana matahari pada masa
Rasulullah pada hari meninggalnya Ibrahim. Orang mengatakan, 'Matahari gerhana
karena meninggalnya Ibrahim.' Lalu Rasulullah bersabda, 'Sesungguhnya matahari
dan bulan (adalah dua dari tanda tanda kebesaran Allah 2/30). Keduanya tidak
gerhana karena meninggal atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihatnya, maka
shalatlah (gerhana) dan berdoalah kepada Allah sehingga ia menjadi cerah
kembali.'"
Bab Ke-2: Memberikan Sedekah pada Waktu Terjadi Gerhana
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits
Aisyah yang akan disebutkan pada bab selanjutnya nanti.")
Bab Ke-3: Berseru dengan, "Ashshalaatu jaami'ah"[1] pada Waktu Shalat Gerhana
551. Abdullah bin Amr berkata, "Ketika terjadi gerhana matahari pada masa
Rasulullah, maka diserukanlah, 'Ashshalaatu jaami'ah' 'shalatlah dengan berjamaah'.
Bab Ke-4: Khotbah Imam pada Waktu Shalat Gerhana
Aisyah dan Asma' berkata, "Nabi berkhotbah."[2]
552. Aisyah istri Nabi saw., berkata, "Terjadi gerhana matahari pada masa hidup
Rasulullah. Beliau keluar ke masjid lalu menyuruh seseorang menyerukan,
Ash-Shalaatu Jaami'ah, kemudian beliau maju (2/31). Lalu, orang-orang berbaris
di belakang beliau. (Dan dalam riwayat lain dari Aisyah: seorang wanita Yahudi
datang mengajukan pertanyaan kepadanya seraya berkata, 'Mudah-mudahan
melindungimu dari azab kubur.' Kemudian Aisyah bertanya kepada Rasulullah,
'Apakah orang-orang disiksa di dalam kuburnya?' Rasulullah menjawab, 'Aku
berlindung kepada Allah dari hal itu.' Kemudian pada suatu pagi Rasulullah naik
kendaraan, lalu terjadi gerhana matahari. Kemudian beliau kembali pada waktu
dhuha.[3] Maka, Rasulullah berjalan di antara dua punggung batu,[4] lalu beliau
berdiri menunaikan shalat 2/26-27).
Kemudian Rasulullah membaca bacaan (dalam satu riwayat: surah 2/62) yang panjang
yang beliau baca dengan keras. Beliau bertakbir, lalu ruku dengan ruku yang
panjang. Setelah itu mengangkat kepalanya seraya (4/76) mengucapkan,
'Sami'allaahu Liman Hamidah.' Lantas berdiri lagi yang lebih pendek daripada
berdirinya yang pertama (2/24) dan tidak sujud. Beliau membaca ayat-ayat yang
panjang tetapi lebih pendek daripada bacaannya yang pertama, (dan dalam satu
riwayat: kemudian beliau membuka bacaannya dengan surah lain). Kemudian
bertakbir dan ruku yang panjang, tetapi lebih pendek dari ruku yang pertama,
lalu mengucapkan, 'Sami'allaahu Liman Hamidah, Rabbana wa Lakal Hamdu.' Lalu,
sujud dengan sujud yang panjang (dua kali sujud 2/30).
Kemudian pada rakat yang terakhir beliau melakukan seperti apa yang beliau
lakukan dalam rakaat sebelumnya. Dengan begitu, beliau telah menyempurnakan empat
kali ruku dalam dua rakaat. Juga telah empat kali sujud (dalam satu riwayat:
dengan dua kali sujud pada rakaat yang pertama, sedang sujud yang pertama lebih
panjang).
Kemudian matahari telah jelas sebelum beliau pergi, lalu beliau salam. Kemudian
beliau berdiri, lalu berkhotbah kepada orang banyak dan memuji Allah dengan
pujian yang layak untuk-Nya. Kemudian bersabda, 'Sesungguhnya matahari dan bulan
adalah dua tanda dari tanda-tanda (kebesaran) Allah yang Dia tampakkan kepada
hamba-hambaNya. Keduanya tidak menjadi gerhana karena meninggalnya seseorang dan
tidak pula karena hidupnya seseorang. Apabila kamu melihatnya, maka lakukanlah
shalat.'
(Dalam satu riwayat: maka, berdoalah kepada Allah, agungkanlah Dia, dan shalatlah
[hingga tersingkap matahari/bulan kepadamu 2/24-25] dan bersedekahlah.
Sesungguhnya saya melihat di tempat berdiriku ini segala sesuatu yang dijanjikan
kepadaku, hingga saya lihat diri saya ingin memetik setandan kurma dari surga
ketika kamu melihat aku maju, dan kulihat neraka Jahannam sebagiannya
meruntuhkan sebagian yang lain ketika kamu lihat aku mundur. Aku lihat di sana
Amr bin Luhaiy [menyeret ususnya 5/1910, dan dialah yang (dan dalam satu
riwayat: orang pertama yang) menelantarkan semua yang telantar 2/62].
Kemudian beliau bersabda, 'Wahai umat Muhammad! Demi Allah, tidak ada seorang
pun yang lebih pencemburu
daripada Allah, melebihi kecemburuan seorang laki-laki atau wanita yang berzina.
Wahai umat Muhammad! Demi Allah, seandainya kamu mengetahui apa yang saya
ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis.' Kemudian beliau
memerintahkan mereka berlindung dari azab kubur."
Katsir bin Abbas[5] menceritakan bahwa Abdullah bin Abbas r.a. apabila terjadi
gerhana matahari biasa menceritakan hadits seperti hadits Urwah dari Aisyah.
(Az-Zuhri berkata 2/31), "Aku berkata kepada Urwah, 'Sesungguhnya saudara
mu (Abdullah bin Zubair tidak berbuat begitu). Pada hari terjadinya gerhana
matahari di Madinah, ia tidak lebih dari melakukan shalat dua rakaat seperti
shalat subuh.' Urwah menjawab, "Betul, karena ia menyalahi Sunnah.'"
Bab Ke-5: Apakah Dikatakan, "Kasafat" atau "Khasafat asy-syamsu", Sedangkan Allah
Berfirman, "Wa Khasafal Qamar"
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits
Aisyah di muka tadi.")
Bab Ke-6: Sabda Nabi, "Allah Menakut-nakuti Hamba-Hambanya dengan Gerhana"
Demikian dikatakan oleh Abu Musa
dari Nabi saw.[6]
Bab Ke-7: Memohon Perlindungan kepada Allah dari Siksa Kubur dalam Shalat
Gerhana
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits
Aisyah yang tertera pada nomor 552 di muka.")
Bab Ke-8: Lamanya Sujud dalam Shalat Gerhana
553. Abdullah bin Amr berkata, "Ketika terjadi gerhana matahari pada zaman
Rasulullah, diserukanlah, 'Ashshalaatu jaami'ah.' Kemudian Nabi shalat dua
rakaat, dengan melakukan dua kali ruku dalam satu rakaat; kemudian berdiri lagi
untuk rakaat kedua. Lalu, melakukan dua kali ruku dalam satu raka'at. Kemudian
beliau duduk, lalu matahari terang." Abdullah berkata, "Aisyah berkata,
'Aku sama
sekali tidak pernah melakukan sujud yang lebih daripada itu.'"
Bab Ke-9: Shalat Gerhana dengan Berjamaah
Ibnu Abbas shalat berjamaah dengan mereka di pelataran Zamzam.[7] Ali bin Abdullah
bin Abbas melakukannya dengan berjamaah.[8]
Ibnu Umar juga shalat gerhana (dengan berjamaah).[9]
554. Abdullah bin Abbas berkata, "Terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah, lalu beliau shalat (bersama orang banyak 6/151). Beliau berdiri lama yaitu kira-kira cukup untuk membaca surah al-Baqarah. Lalu, ruku dengan ruku yang lama, kemudian mengangkat kepala. Lalu, berdiri lagi agak lama, tetapi tidak selama berdirinya yang pertama. Kemudian ruku lagi agak lama, tetapi rukunya tidak selama yang pertama, lalu sujud. Kemudian beliau berdiri (untuk mengerjakan rakaat yang kedua). Berdirinya lama tetapi tidak selama berdiri yang pertama. Lalu, ruku dengan ruku yang lama. Tetapi, tidak selama ruku yang pertama. Kemudian mengangkat kepala lalu berdiri agak lama, tetapi tidak selama berdirinya yang pertama. Lalu ruku agak lama, tetapi tidak selama ruku yang pertama. Kemudian mengangkat kepala, lalu beliau sujud. Lalu selesailah shalat beliau, sedangkan matahari sudah tampak jelas. Kemudian beliau bersabda, 'Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda-tanda kebesaran Allah. Tidak terjadi gerhana matahari atau bulan karena meninggalnya seseorang atau karena hidupnya seseorang. Apabila kamu melihatnya, maka ingatlah kepada Allah.' Para sahabat berkata, 'Wahai Rasulullah, kami melihat engkau memperoleh sesuatu di tempat engkau, kemudian kami melihat engkau menahan (napas)?'[10] Beliau bersabda, 'Sesungguhnya saya melihat (dan dalam satu riwayat: diperlihatkan 1/182) surga, dan saya memperoleh seuntai. Seandainya saya mengambilnya, niscaya kamu memakan daripadanya selama dunia masih ada. Dan, saya melihat neraka, maka saya tidak pernah melihat pemandangan yang lebih ngeri seperti hari ini. Saya lihat sebagian besar penghuninya adalah wanita.' Mereka bertanya, 'Karena apakah wahai Rasulullah?' Beliau bersabda, 'Karena kekafiran mereka.' Ditanyakan, 'Mereka kafir kepada Allah?' Beliau bersabda, 'Mereka kufur terhadap suami dan kufur terhadap kebaikan. Seandainya kamu berbuat kebaikan kepada salah seorang dari mereka selama setahun penuh, kemudian ia melihat sesuatu (yang tidak menyenangkan) sedikit saja darimu, ia mengatakan, 'Saya tidak pernah melihat kebaikan darimu sama sekali.'"
Bab Ke-10: Shalatnya Kaum Wanita Bersama Kaum Lelaki dalam Mengerjakan Shalat
Gerhana
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits
Asma' di muka.")
Bab Ke- 11: Orang yang Suka Memerdekakan Hamba Sahaya Ketika Ada Gerhana
Matahari
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya hadits Asma' di muka.")
Bab Ke-12: Shalat Gerhana di Dalam Masjid
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya hadits Aisyah yang tercantum pada nomor 552 di muka.")
Bab Ke-13: Matahari (dan Juga Bulan) Tidak Gerhana karena Kematian atau
Kehidupan Seseorang
Diriwayatkan oleh Abu Bakrah,
Mughirah, Abu Musa, Ibnu Abbas, dan Umar radhiyallahu 'anhum.[11]
Bab Ke-14: Berzikir pada Waktu Terjadi Gerhana
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas.[12]
555. Abu Musa berkata, "Terjadi gerhana matahari, lalu Nabi berdiri dengan terkejut, takut kiamat terjadi. Kemudian beliau datang ke masjid, lalu melakukan shalat dengan berdiri lama, ruku dan sujud yang pernah saya lihat yang beliau lakukan. Beliau bersabda, 'Tanda-tanda yang dikirimkan oleh Allah ini bukan karena meninggalnya seseorang. Tetapi, Allah menakut-nakuti hamba-Nya dengannya. Apabila kamu melihat sedikit saja darinya, maka berlindunglah dengan berzikir (ingat) kepada Allah, berdoa dan memohon ampunan-Nya.'"
Bab Ke-15: Berdoa pada Waktu Terjadi Gerhana
Dikatakan oleh Abu Musa dan Aisyah dari Nabi saw.[13]
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan hadits Mughirah yang
tersebut pada nomor 550 di muka.")
Bab Ke-16: Ucapan Imam dalam Khutbah Gerhana dengan Mengatakan, "Amma Ba'du"
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan secara mu'allaq
sebagian dari hadits Asma' yang maushul yang tersebut pada nomor 118.")
Bab Ke-17: Shalat pada Waktu Terjadi Gerhana Bulan
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Bakrah yang tersebut pada nomor 547 di muka.")
Bab Ke-18: Rakaat Pertama dalam Shalat Gerhana Itu Lebih Panjang
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Aisyah yang tercantum pada nomor 552.")
Bab Ke-19: Mengeraskan Suara Ketika Membaca dalam Shalat Gerhana.
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits
Aisyah tadi.")
Catatan Kaki:
[1] Yakni laksanakanlah shalat dengan berjamaah.
[2] Hadits Aisyah di-maushul-kan pada bab sebelumnya, dan teks khotbahnya akan
disebutkan di dalam hadits Aisyah di sini. Sedangkan, hadits Asma' telah
disebutkan pada nomor 161 di muka.
[3] Yakni, dari mengantar jenazah. Dan yang menyebabkan beliau naik kendaraan itu
ialah kematian putra beliau Ibrahim.
[4] Yakni, di rumah-rumah istri beliau saw., dan rumah-rumah itu menempel di masjid.
[5] Di-maushul-kan oleh Muslim di dalam Shahih-nya dari Katsir, dan Imam Bukhari
me-maushul-kan hadits ini secara marfu darinya dari beberapa jalan lain dari Ibnu
Abbas, dan akan disebutkan pada nomor 672.
[6] Di-maushul-kan oleh Imam Bukhari pada BAB-14.
[7] Di-maushul-kan oleh asy-Syafi'i dengan sanad sahih dari Ibnu Abbas.
[8] Al-Hafizh berkata, "Saya tidak menjumpainya yang maushul."
[9] AI-Hafizh berkata, "Boleh jadi ini merupakan kelanjutan dari riwayat Ali
tersebut. Ibnu Abi Syaibah telah
meriwayatkan yang semakna dengannya dari lbnu Umar."
[10] Dalam riwayat Muslim, "Kami melihat engkau menahan napas."
[11] Di-maushul-kan oleh Imam Bukhari. Hadits Abu Bakrah disebutkan pada nomor
547, hadits Mughirah pada nomor 550, hadits Abu Musa pada bab yang akan datang,
hadits Ibnu Abbas pada nomor 554, dan hadits Ibnu Umar pada nomor 549. Dalam bab
ini juga dibawakan hadits Abu Mas'ud yang tercantum pada nomor 548 dan hadits
Aisyah yang tertera pada nomor 552, yang diriwayatkan juga di sini dengan
isnadnya.
[12] Di-maushul-kan oleh Imam Bukhari pada hadits nomor 554 di muka dengan lafal,
"Maka ingatlah kepada Allah."
[13] Hadits Abu Musa di-maushul-kan pada bab sebelumnya, dan hadits Aisyah
disebutkan pada nomor 552 di muka.
Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari - M. Nashiruddin Al-Albani - Gema Insani Press
.:: HaditsWeb ::.